Cerita Dibalik Menjadi Front-end Engineer

Teruslah belajar, karena di dunia digital, perkembangan sangatlah cepat dan kita dituntut untuk terus mengikutinya. Jangan lupa membangun network dengan

Ilustrasi front-end engineer

Teruslah belajar, karena di dunia digital, perkembangan sangatlah cepat dan kita dituntut untuk terus mengikutinya. Jangan lupa membangun network dengan bergabung di komunitas agar selalu bertemu orang-orang baru. – Arwani Ali (Front-end engineer Ketitik)

Di era digital seperti sekarang, orang-orang dari berbagai kalangan memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk berbagai keperluan mereka contohnya seperti berbisnis, berkarya, dan lain-lainnya. Media yang digunakan pun beragam yaitu seperti media sosial, website, dan lain sebagainya. Sama seperti halnya media sosial, website juga dapat dimanfaatkan untuk berbisnis maupun berkarya. Jika membicarakan tentang website, tentu anda juga harus memikirkan tampilan websitenya agar terlihat menarik. Terciptanya tampilan sebuah website yang bagus dan menarik visitor, tentu tidak lepas dari sentuhan tangan sang ahli. Siapa lagi kalau bukan front-end engineer. Seperti Arwani Ali, front-end engineer Ketitik, yang memegang peran penting dalam terciptanya tampilan website dan aplikasi Ketitik. Namun ternyata, tugas atau pekerjaan seorang front-end engineer tidak hanya memastikan tampilan website menarik. Apa sajakah itu? Yuk simak kelanjutannya dalam artikel ini, yang juga akan menguak cerita di balik menjadi front-end engineer.

Mas Arwani begitu sapaannya, sudah Lima tahun menggeluti pekerjaan ini. Menurutnya, front-end engineer itu merupakan ujung tombak sebuah aplikasi yang mana merupakan tanggung jawabnya. Karena aplikasi yang baik adalah aplikasi yang paling mudah digunakan dan harus memudahkan pengguna. Lulusan Institute Teknologi Sepuluh November ini, menjelaskan bahwa front-end itu meliputi UX dan UI. Tambahnya, UX alias user experience adalah bagaimana user dapat berinteraksi menggunakan aplikasi dengan nyaman dan mudah, termasuk flow bagaimana aplikasi dapat dengan mudah dipahami user. Hal tersebut harus lebih banyak riset karakter pengguna. Sedangkan UI atau user interface adalah desain detail dari aplikasi. Setelah flow aplikasi didapat maka langkah selanjutnya adalah mendesain tampilan akhir yang akan dilihat pengguna meliputi, tata letak, ukuran, pewarnaan, dan tampilan aplikasi yang eye catching.

Tentang menjadi front-end engineer

Laki-laki yang berasal dari Surabaya ini mengaku ketertarikannya terhadap pekerjaannya saat ini muncul yaitu dimulai pada tahun 2004. Ceritanya pada saat itu, tampilan website masih monoton, masih susah digunakan dan susah dioperasikan yang kemudian membuat rasa penasarannya muncul. Hal tersebut lah yang membuat Mas Arwani mulai tergerak untuk membuat tampilan website dan aplikasi menjadi lebih “awesome” dan mulai untuk belajar desain aplikasi web. Ia menambahkan, keahliannya dalam bidang ini ia dapatkan dari hanya belajar otodidak dan bergabung dengan komunitas-komunitas yang berhubungan.

Untuk mendapatkan inspirasi, mas Arwani mengatakan bahwa Inspirasi datang dari mana aja, apa aja, dan kapan aja. Misalnya saja ketika browsing, lalu menemukan aplikasi yang bagus, biasanya langsung dijadikan bookmark untuk dipelajari dan dijadikan inspirasi. Atau ketika melihat ada developer yang sukses membangun aplikasi yg ‘wow’, orang tersebut dapat menginspirasi saya, imbuhnya.

Pengalaman Menarik

Menjadi seorang front-end engineer selama 5 tahun, tentu mas Arwani memiliki pengalaman yang menarik untuk disimak. Salah satu pengalaman yang susah dilupakan adalah ketika dirinya masih memulai menjadi software developer dan waktu itu ia hanya mampu memodifikasi template open source. Akunya, ketika dipanggil wawancara di sebuah startup di Surabaya sebagai front-end engineer, ia diharuskan membuat tampilan aplikasi “from scratch” alias dari nol dan diberikan waktu hanya 1 jam saja. Tentu hal tersebut merupakan tantangan besar bagi mas Arwani karena sebelumnya ia belum pernah melakukannya. Jadi akibatnya, dalam waktu yang sudah ditentukan tersebut, ia tidak mengerjakan apa-apa.

“Setelah itu, saya pun meminta kesempatan kedua untuk mempelajarinya selama 2 hari saja.” Imbuh mas Arwani. Alhasil selama dua hari itu, saya pun tidak tidur untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Atas jerih payah akhirnya mas Arwani berhasil diterima kerja di startup tersebut.

Suka Dukanya

Tepat pada bulan Juni tahun ini, genap satu tahun sudah dirinya bergabung bersama Ketitik. Selama menjadi front-end engineer, ia mengaku di mana pun inshaallah tidak mengenal duka dalam bekerja selama ikhlas menjalaninya. Selama bergabung bersama Ketitik, ia belajar banyak hal baru yang belum pernah diketahui dan sangat senang telah bergabung dengan tim yang friendly dan saling support, tambahnya.

Pesan-pesan

Setelah kita mendengar cerita dibalik menjadi seorang front-end engineer, dimulai dari apa saja pekerjaannya, pengalaman menarik apa saja, hingga suka dukanya yang disampaikan oleh front-end engineer dari Ketitik, mas Arwani. Di bagian akhir ini, beliau ingin menyampaikan pesan untuk semua orang yang mungkin tertarik untuk menjadi seorang front-end engineer.

“Teruslah belajar, karena di dunia digital, perkembangan sangatlah cepat dan kita dituntut untuk terus mengikutinya. Jangan lupa membangun network tentang bergabung di komunitas agar selalu bertemu orang-orang baru.”- Arwani Ali (2019)

Semoga artikel kali ini dapat memberikan inspirasi bagi anda khususnya bagi anda yang ingin menjadi front-end engineer dan penasaran bagaimana cerita dibaliknya.